The Crumpled Paper


when I write without paper

Sistem Cerdas: Sistem Cerdas vs Fixed Problem

Pada minggu-minggu sebelumnya, saya sudah membahas tentang apa itu sistem cerdas, fixed problem, sistem non-linier maupun linier. Nah, kali ini saya akan membahas tentang perbedaan antara fixed problem dan sistem cerdas. Semoga penjelasan saya yang sekarang saya buat sesederhana mungkin bisa dipahami oleh teman-teman.

Membuat suatu sistem cerdas tidak sama dengan membuat program konvensional yang selama ini kita pelajari. Dalam membuat sistem cerdas, kita seakan-akan mengajari seorang anak kecil, mengenalkannya pada suatu hal, meminta ia mengingatnya, dan membuatnya mampu menjawab pertanyaan seputar hal tersebut. Misal, kita mengajari anak kecil tentang kursi. Kita pasti terlebih dulu mengenalkannya bagaimana bentuk umum kursi, meminta dia mengingat bahwa kursi pada dasarnya dimana-mana berbentuk 'seperti' itu, dan ketika disodorkan akan dua benda (misalnya kursi dan meja) dia mampu menjawab yang mana kursi (seperti yang kita ajarkan). Saya harap sampai sini teman-teman bisa memahami maksud analogi saya hehe...

Berbeda dengan program konvensional, kita harus menuliskan script atau coding yang didasari oleh algoritma dalam membangun suatu program. Sistem cerdas diadaptasi dari bagaimana otak dengan berjuta-juta sel didalamnya bekerja. Jika terjadi kesalahan dalam membangun sistem cerdas, kita tidak bisa menganalisa dimana letak kesalahan itu berada, seperti mencari titik kesalahan di dalam berjuta-juta sel: "menjari jarum dalam tumpukan jerami". Namun, jika kita melakukan kesalahan dalam membangun program konvensional, kita masih bisa menelusuri dimana letak kesalahannya, karena kita membangun program itu secara text based. Jadi, jika kita melakukan kesalahan dalam mengajari mesin, relakan saja, hapus memorinya, ulangi lagi proses pembelajarannya, dan sabar. Bisa dibayangkan, kan ? :)

Dengan prinsip membangun sistem cerdas yang seperti itu, sang manusia tentu harus cerdas dalam mengajari si mesin. Dan jelas manusia harus lebih cerdas daripada si mesin. Jangan sampai kita membangun sistem cerdas yang tidak cerdas. Sebelum kita mengajari sesuatu kepada mesin, kita harus terlebih dahulu mengolahnya sehingga mesin dapat dengan cermat menerima apa yang kita ajari. Yah, namanya juga mesin...

Dulu, pertama kali komputer diciptakan untuk mengolah angka, to compute >> kalkulator. Ingat pelajar SMA tentang teknologi informasi, kan? Sehingga, pada umumnya program komputer konvensional masih berbasis algoritma. Algoritma tersebut dialihbahasakan ke dalam bahasa pemrograman, seperti C, Pascal, Java, dan bahasa lainnya sehingga komputer memahami algoritma tersebut.

Mengingat manusia cenderung bernalar dengan menggunakan simbol-simbol daripada angka, maka perangkat lunak AI lebih berbasis representasi pengetahuan dengan kekuatan pada manipulasi simbolik ketimbang angka. Di sini simbol tersebut berupa huruf, kata, atau angka yang merepresentasikan obyek, proses dan hubungan keduanya. Sebuah obyek bisa jadi seorang manusia, benda, pikiran, konsep, kejadian, atau pernyataan suatu fakta. Menggunakan simbol, kita dapat menciptakan basis pengetahuan yang berisi fakta, konsep, dan hubungan di antara keduanya. Kemudian beberapa proses dapat digunakan untuk memanipulasi simbol tersebut untuk menghasilkan nasehat atau rekomendasi untuk penyelesaian suatu masalah. [1]

Nah, saya sertakan video tutorial tentang artificial intelligence untuk memudahkan teman-teman dalam membayangkan bagaimana sih membangun suatu sistem cerdas. Silahkan dipelajari. Semoga bermanfaat :)

Referensi:

[1] Santoso, Purnomo Budi, Modul Bahan Ajar UBDistanceLearning: APPLIED ARTIFICIAL INTELLIGENT, Universitas Brawijaya: Malang. ismecub.com/ntp/wp/wp-content/.../01/5OK-PENGANTAR-AI.docx‎ diakses pada 23 Maret 2014 pukul 13.16 WIB

[2] http://www.youtube.com/watch?v=tokt--1wcEU diakses pada 23 Maret 2014 pukul 12.30 WIB

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :